ANTIHISTAMIN II : Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin
Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin. Antihistamin dan histamin berlomba menempati reseptor yang sama. blokade reseptor oleh antagonis h1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.
Turunan Propilamin
Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1 yang paling aktif. golongan ini cenderung tidak membuat kantuk tetapi beberapa pasien mengalami efek samping kantuk ini. pada anggota yang tidak jenuh sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar merupakan faktor penting untuk aktivitas antihistamin. Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat.
Dosis dari CTM :
anak-anak usia 2-5 tahun dengan dosis 1 mg tiap 4-6 jam, batas maksimal dosis per hari adalah 6 mg. anak-anak usia enam-11 tahun dengan dosis 2 mg tiap 4-6, jam batas maksimal dosis per hari adalah 12 mg. sedangkan untuk anak-anak usia diatas 12 tahun hingga dewasa memiliki dosis 4 mg tiap 4-6 jam, batas maksimal dosis per hari adalah 24 mg dan 12 mg bagi orang yang berusia diatas 65 tahun.
Farmakodinamik
diperkirakan bahwa mekanisme antihistamin obat ini juga memiliki efek Anti emetik Anti motion sickness dan anti vertigo yang berhubungan dengan kerja obat dalam mempengaruhi antikolinergik pusat. pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. efek antagonis terhadap histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin mata gatal dan berair serta pilek pada pasien. dalam hal ini kita membahas chlorpheniramine maleat dimana CTM ini memiliki efek antikolinergik dan sedatif ringan.
Farmakokinetik :
Absorpsi :
obat CTM diabsorpsi baik setelah konsumsi peroral. bioavailabilitas obat sekitar 25-50%. Konsentrasi puncak tercapai dalam waktu 2-3 jam. Masa kerja adalah sekitar 4-6 jam.
Metabolisme :
chlorpheniramine terutama dimetabolisme di hepar melalui enzim sitokrom p450. Antihistamin H1 merupakan salah satu golongan obat yang menginduksi enzim mikrosomal hepatik, dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.
Distribusi :
Sekitar 72% chlorpheniramin dalam plasma darah terikat protein.
Eliminasi :
Sebagian besar chlorpheniramine dieliminasi kan oleh tubuh melalui urine.
Waktu paruh :
waktu paruh obat dalam plasma darah bervariasi sekitar 12-15 jam hingga mencapai 27 jam.
Turunan Fenotiazin :
Fenotiazin merupakan golongan obat antipsikotik. Fenotiazin dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu alifatik piperazin dan piperadin. Di mana perbedaan utamanya pada efek sampingnya, fenotiazin alifatik menghasilkan efek sedatif yang kuat, menurunkan tekanan darah dan menimbulkan gejala gejala ekstrapiramidal. untuk fenotiazin piperazine menghasilkan efek sedatif yang sedang, efek antiemetik yang kuat dan beberapa menurunkan tekanan darah. sedangkan untuk efek samping dari fenotiazin piperazine adalah mempunyai efek sedatif yang kuat menimbulkan sedikit gejala gejala ekstrapiramidal dapat menurunkan tekanan darah dan tidak mempunyai efek antiemetik.
Dosis :
Dewasa : 5-10 mg sampai 4 kali sehari
Farmakodinamik :
Mekanisme kerja prochlorperazine sebagai anti muntah adalah dengan membelah reseptor dopamin di otak, efek antidopaminergik dan memblok saraf vagus pada saluran pencernaan. sedangkan mekanisme kerja prochlorperazine sebagai obat antipsikotik adalah memblok reseptor dopamin mesolimbik dan memblok reseptor alfa-adrenergik di otak.
Farmakokinetik :
Absorpsi :
Bioavailabilitas dari proklorferazin adalah 12,5%.
Metabolisme :
Dimetabolisme di hati menjadi metabolit aktif N-desmethyl prochlorferazine.
Distribusi :
Volume distribusi 1.400-1.548 L
Eliminasi :
Dieliminasi terutama melalui feses
Waktu paruh :
6-10 Jam
Permasalahan :
- Setelah saya pelajari untuk obat Prochlorperazine tidak ada dosis untuk anak-anak, mengapa demikian? Jika pun ada bagaimana dosis yang tepat untuk anak-anak?
- Salah satu efek samping dari Chlorprometazine yaitu menghambat ovulasi dan menstruasi. Bagaimana kejadian itu bisa terjadi?
- Bagaimana efek yang terjadi apabila turunan propilamin dan fenotiazin ini dikonsumsi bersamaan? Adakah formula yang paling baik untuk gabungan propilamin dan fenotiazin?
Artikelnya sangat membantu terimakasih
BalasHapusterimakasih anisya, materi nya sangat bermanfaat. izin menjawab pertanyaan nomor 2. Salah satu efek samping dari Chlorprometazine dalam menghambat ovulasi dan menstruasi. Chlorprometazine sendiri memiliki efek antipsikosis, dimana efek ini dapat mengurangi kadar dopamin dalam tubuh.
BalasHapusMenurut Wirakususma (2003), dalam buku 'Tip & Solusi Menopause Dengan Terapi Estrogen Alami" Mengatakan dopamin akan mempengaruhi emosi dan perilaku seksual, Kadar dopamin dipengaruhi oleh kadar estrogen. Sehingga apabila Chlorprometazine menurunkan kadar dopaminnya maka kadar estrogen pasti berkurng juga, estrogen yang berkurang menyebabkan terhambatnya proses ovulasi dan menstruasi
Terima kasih atas penjabarannya anisya, sangat bermanfaat😊
BalasHapusIzin menjawab nomor 3 ya, interaksi antara turunan obat propilamin dan fenotiazin dapat meningkatkan efek sedasi. Misalnya antara obat chlorpeniramin dan obat trifluoperazine. Karena itu, penggunaan kedua obat ini dianjurkan tidak dikonsumsi bersamaan
Hai Anisya, terima kasih atas artikelnya.
BalasHapusSaya bantu jawab pertanyaan nomor 1, Proklorperazin merupakan antihistamin yang banyak digunakan sebagai obat mual, muntah serta obat psikotik. Penggunaan proklorperazin menyebabkan blokade pada reseptor dopamin di otak sehingga sekresi neurotransmitter dopamin ditekan. Efek samping anti-psikosis yaitu menyebabkan timbulnya sindrom ekstrapiramidal. Anak-anak <2 tahun lebih rentan terkena sindrom piramidal karena kinerja jaringan yang belum maksimal untuk menghadang efek negatif dari antipsikosis. Sindrom ekstrapiramidal merupakan kondisi yang terjadi akibat gangguan pada sistem ekstrapiramidal di otak. Akibatnya, penderita melakukan gerakan-gerakan yang tak disadari dan sulit dikendalikan.
Mempertimbangkan hal tersebut, sebaiknya proklorperazin tidak diberikan kepada anak-anak dan dapat diganti dengan antihistamin turunan lain yang tidak memiliki efek anti-psikosis.
Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusWahhh singkat jelas dan padat, terimakasih ilmunya
BalasHapusTrimakasih artikel nya
BalasHapusBermanfaat sekali, terima kasih artikelnya
BalasHapusSemangat terus yaa
BalasHapusTerima kasih banyak, di tunggu updet selanjutnya
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus