HEMATOLOGI II : Fibrinolisis dan Antifibrinolitika
Hematologi berasalah dati bahasa romawi yaitu hemat yang berarti darah dan logi yang berarti belajar atau mempelajari. Hematologi adalah ilmu yang mempelajari aspek anatomi, fisiologi, dan patologi darah. Komponen darah terdiri dari plasma dan unsur-unsur pembentuk darah yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Fibrinolisis
Fibrinolisis merupakan kondisi pecahnya fibrin yang diproduksi dalam darah. Ada beberapa penyebab terjadinya fibrinolisis adalah infeksi bakteri, kanker, latihan terus menerus, kadar gula darah terlalu rendah, dan kekurangan oksigen untuk jaringan.
Ada dua tipe fibrinolisis yaitu :
- Primer : Pemecahan gumpalan darah
- Sekunder : Pemecahan gumpalan darah karena obat-obatan.
Dilihat dari tahapan atau fase, proses penyembuhan luka terdiri dari tiga fase yaitu :
1. Fase Hemostasis dan Inflamasi
Pada fase pertama ini, sistem fibrinolitik ditekan untuk memungkinkan terbentuknya fibrin dan diikuti proses stabilisasi bekuan darah. Jaringan fibrin yang terbentuk selain membantu menghentikan perdarahan, juga sebagai penahan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh melalui luka tersebut.
Dengan demikian, sistem koagulasi ini dapat secara sementara memainkan peran jaringan mukosa sebagai “barrier“. Jejaring fibrin ini juga dapat memandu sel lain bermigrasi ke tempat luka dan memicu proliferasi fibroblas.
2. Fase Proliferasi
untuk mengurangi area luka dengan kontraksi dan fibroplasia dan membentuk sawar epitel. Hal yang tampak di fase ini adalah penutupan luka melalui proses angiogenesis, fibroplasia, dan reepitelisasi. Proses ini terjadi dalam 48 jam pertama terjadinya luka sampai 14 hari setelah onset terjadinya luka.
3. Fase Remodeling
Fase terakhir dari penyembuhan luka adalah remodeling. Fase ini dimulai dua sampai tiga minggu setelah onset luka dan dapat berlangsung lama sampai satu tahun bahkan lebih. Tujuan utama dari fase ini adalah mencapai kekuatan tensil yang cukup melalui proses reorganisasi, degradasi, dan resintesis dari matriks ekstraseluler.
Pada fase ini terjadi maturasi elemen jaringan dan resolusi dari proses inflamasi. Dengan menutupnya luka, maka kolagen tipe III akan didegradasi dan sintesis kolagen tipe I akan meningkat. Proses normalisasi ini didukung oleh produksi level rendah dari kemokin antiinflamasi seperti IL-10 atau TGF-β1. Adapun regulasi sintesis kolagen dipengaruhi berbagai macam growth factor seperti TGF-β1 dan FGF.
Anti Fibrinolitik
Antifibrinolitika merupakan obat yang digunakan sebagai terapi yang dapat mencegah terjadinya resiko re-bleeding. Antigibrinolitika bekerja menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin, mencegah breap up dari fibrin dan menjaga stabilitas menggumpal.
Contoh obat dari Antifibrinolitika adalah Asam Traneksamat
Dosis Asama Traneksamat :
Bentuk obat: tablet dan kapsul
Kondisi: Menorrhagia
1 gram, 3 kali sehari saat haid, penggunaan tidak boleh lebih dari 5 hari. Dosis dapat ditingkatkan jika terjadi perdarahan yang berat. Dosis maksimal 4 gram sehari.
Kondisi: Hereditary angiodema
1–1,5 gram, 2–3 kali sehari, tergantung kondisi pasien.
Kondisi: Perdarahan akut
1–1,5 gram, 2–3 kali sehari.
Kondisi: Perdarahan setelah tindakan cabut gigi pada pasien hemofilia
1,5 gram, 3 kali sehari.
Farmakodinamik :
Farmakodinamik asam traneksamat bekerja pada proses pembekuan darah. Asam traneksamat merupakan derivat asam amino lisin yang bekerja menghambat proses fibrinolisis. Asam amino lisin yang memiliki afinitas tinggi akan menempel pada reseptor plasminogen, sehingga plasmin tidak dapat diaktifkan. Akibatnya proses degradasi fibrin dan faktor pembekuan lainnya oleh plasmin tidak terjadi.
Ketika terjadi perdarahan, faktor pembekuan akan teraktivasi, dan platelet akan berkumpul membentuk bekuan darah. Aktivasi faktor pembekuan darah dimulai dari platelet dihancurkan dan mengeluarkan trombokinase. Trombokinase akan mengaktifkan trombin dari bentuk inaktifnya protrombin. Trombin akan mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin. Benang-benang fibrin akan memperkuat bekuan darah. Di samping itu, pada saat proses pembekuan darah, tissue plasminogen activator (tpa) akan mengaktivasi plasminogen menjadi plasmin. Plasmin berperan dalam proses fibrinolisis, dimana plasmin akan menghancurkan fibrin dan faktor pembekuan lain. Disini asam traneksamat bekerja menghambat proses fibrinolisis.
Farmakokinetik :
Absorpsi
Injeksi Diabsorpsi dengan cepat di palsma darah. Sediaan oral diabsorpsi di sistem gastrointestinal hanya sebesar 50%. Bekerja mencapai puncaknya adalah sekitar 1-5 jam.
Distribusi
Asam traneksamat yang berikatan dengan protein harus mencapai minimal 3% suapaya dapat memberikan efek terapeutik. Asam Traneksamat ini berikatan penuh dengan plasminogen.
Metabolisme
Total 5% sisa metabolisme yang ditemukan di urin selama 72 jam.
Eliminasi
Dieliminasi melalui ginjal tepatnya melalui filtrasi di glomerulus diekskresikan melalui urin.
Waktu Paruh :
2-11 Jam
DAFTAR PUSTAKA
Boedhianto, F. X. 1986. Patologi Klinik. Surabaya : Universitas Airlangga Press.
Maus, G. C. dan K. A. Hajjar. 2005. Molecular Mechanisms of Fibrinolysis. British Journal of Haematology,129 : 307-321.
Permasalahan :
- Kenapa asam traneksamat dimetabolisme hanya sebagian kecil?
- Dalam kondisi bagaiman waktu paruh asam traneksamat mencapai 11 jam?
- Bagaimana pengaruhnya terhadap absorpsi asam traneksamat untuk usia lanjut?
Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusTerimakasih ilmunya kak, sangt bermanfaaat
BalasHapusTrimakasih kak ilmu nya sangt bermanfaat
BalasHapusBermanfaat sekali, terima kasih artikelnya
BalasHapusGa sabar nunggu blog yg lain
BalasHapusTerima kasih banyak, di tunggu updet selanjutnya
BalasHapusArtikelnya bagus dan sangan bermanfaat
BalasHapusSukses ya, ditunggu update selanjutnya
BalasHapusSemangat
BalasHapus